Judul Buku :
IPA BIOLOGI
Nama Penulis : Istamar Syamsuri, dkk
Tahun Terbit : 2007
Nama Penerbit :
Erlangga
Kota Terbit : Jakarta
Jumlah Total Halaman Buku : 160
Halaman Buku Resume :
45-61
Hasil Resume :
SISTEM INDRA PADA MANUSIA
Tubuh
kita dilengkapi dengan organ penerima rangsangan dari luar berupa sistem indra.
Indra manusia berfungsi sebagai reseptor atau penerima rangsangan dari
lingkungan sekitar. Indra manusia berupa indra penglihat (mata), indra
pendengar (telinga), indra peraba (kulit), indra pembau (hidung), dan indra
pengecap dan perasa (lidah).
Kelima alat
indra ini akan berfungsi dengan baik jika :
a.
Saraf-saraf yang
berfungsi membawa rangsangan bekerja dengan baik.
b.
Otak sebagai pengolah
informasi bekerja dengan baik.
c.
Alat-alat indra tidak
mempunyai kelainan bentuk dan fungsinya
Berikut ini akan
kalian pelajari alat indra manusia satu demi satu.
1.
Mata
Mata
kita berjumlah sepasang dan terletak di dalam rongga mata yang dilindungi oleh
tulang tengkoroak. Agar dapat berfungsi sempurna, mata dibantu oleh sejumlah
alat tambahan, yaitu alat pelindung di sekitar mata dan seperangkat otot
penggerak bola mata.
Disebelah
dalam kelopak mata terdapat kelenjar air mata yang menghasilkan air mata. Air
mata berfungsi membunuh kuman yang akan masuk ke dalam mata serta menjaga agar
permukaan bola mata selalu basah dan bebas dari debu.
Bagian – bagian
mata terdiri dari otot, dinding bola mata, dan lensa mata.
a.
Otot Penggerak Bola
Mata
Ada
tiga pasang otot penggerak bola mata, yaitu otot penggerak atas, bawah, dan
samping. Selain itu juga terdapat otot pemutar atas dan bawah. Otot-otot itu
dapat menggerakkan bola mata kita ke segala arah. Apabila salah satu otot
penggerak tidak berfungsi, mata kita menjadi juling.
b.
Selaput (dinding) Bola
Mata
Dinding
bola mata berfungsi sebagai pelindung bola mata. Dinding bola mata atau selaput
bola mata terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan luar, lapisan tengah, dan
lapisan dalam. Agar dapat
memahami perhatikan gambar di bawah ini.
1) Lapisan
luar atau selaput luar
Lapisan
luar bola mata bagian depan bersifat tembus cahaya (transparan). Lapisan ini
disebut kornea atau selaput bening. Fungsi kornea adalah untuk meneruskan
cahaya ke dalam bola mata. Selaput bening ini hanya ada di depan dan bentuknya
bulat. Disebelah luar kornea terdapat selaput konjungtiva yang berlanjut ke
kelopak mata. Lapisan luar bagian samping dan belakang bola mata berwarna
putih. Lapisan ini disebut sklera.
2) Lapisan
tengah (lapisan koroid atau selaput jala)
Lapisan
tengah terletak disebelah dalam lapisan luar. Selaput jala berubah menjadi
selaput pelangi atau iris. Disebut selaput pelangi karena berwarna-warni dan
bagian inilah yang menentukan warna mata. Selaput pelangi orang Indonesia umumnya
berwarna hitam atau kecoklatan. Ditengah selaput pelangi terdapat lubang yang
disebut orang-orangan mata atau pupil.
3) Lapisan
dalam (retina mata)
Lapisan
paling dalam disebut retina mata, retina mata mengandung sel-sel yang sensitif
terhadap cahaya dan mengandung saraf penglihatan. Pada retina mata terdapat dua
macam sel reseptor, yaitu sel batang dan sel kerucut. Sel batang terletak
dibagian tepi mata dan dapat bekerja dengan baik pada cahaya redup, jumlahnya
120 juta sel. Sel kerucut umumnya terletak dibagian tengah belakang mata,
jumlahnya sekitar 7 juta sel. Sel-sel ini berfungsi untuk membedakan warna
benda.
c.
Lensa Mata
Lensa
mata terletak tepat dibelakang selaput pelangi dan dibelakang pupil mata. Lensa
mata berbentuk bikonveks (cembung muka dan belakang), seperti lensa pada
kamera. Cara kerja kamera meniru cara kerja mata. Mata kita dapat melihat benda
yang letaknya jauh atau dekat. Untuk melihat benda yang letaknya jauh, lensa
mata memipih. Sebaliknya, untuk melihat benda yang dekat lensa mata mencembung.
d.
Proses Melihat Benda
Cahaya
yang mengenai suatu benda akan dipantulkan oleh benda tersebut. Pantulan cahaya
masuk kedalam mata melalui lensa dan jatuh tepat pada bintik kuning.
Sesampainya diretina, rangsangan cahaya diterima oleh saraf mata. Saraf mata
mengirim rangsangan cahaya kepusat saraf penglihatan di otak untuk diolah,
setelah diolah oleh otak, barulah kita mengetahui macam benda yang kita lihat.
2.
Telinga
Telinga
adalah alat indra pendengar yang peka terhadap rangsangan atau bunyi. Jika
sejak lahir indra pendengaran seseorang tidak berfungsi, maka orang tersebut
selain tuli juga bisu. Hal ini disebabkan dia tidak mendengar suara orang
bercakap-cakap, sehingga tidak dapat mengenal dan meniru ucapan.
Berikut
bagian-bagian telinga beserta fungsinya.
a.
Bagian-Bagian Telinga
Telinga
terdiri atas tiga bagian, yaitu telinga bagian luar, telinga bagian tengah, dan
telinga bagian dalam. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar tentang bagian
telinga tersebut.
b.
Proses Mendengar
Bunyi
yang dapat kita dengar ialah bunyi yang mempunyai frekuensi gelombang 20 Hz
sampai 20.000 Hz (1 Hz = 1 hertz = 1 getaran per detik). Getaran bunyi
ditangkap oleh daun telinga, masuk melalui liang telinga dan menyebabkan
gendang telinga atau selaput timpani bergetar. Di liang telinga terdapat
rambut-rambut dan kelenjar yang mengeluarkan getah seperti jeli dan berwarna
kecoklatan. Fungsi getah tersebut untuk melindungi liang telinga dari gangguan
hewan kecil yang masuk ke liang telinga.
Getaran
pada membran timpani dilanjutkan ketelinga tengah. Telinga bagian tengah
terdiri dari tulang-tulamg pendengaran, yaitu martil, landasan, dan sanggurdi
yang saling menyambung. Getaran dari membran timpani dirambatkan oleh ketiga
tulang tersebut menuju ke telinga dalam.
Telinga
dalam merupakan bagian penerima getaran. Bagian ini tersusun atas tingkap
(jendela) jorong, tingkap bundar, tiga saluran setengah lingkaran, dan koklea
(rumah siput). Dari telinga tengah, getaran menuju ke tingkap jorong, kemudian
masuk kedalam koklea dan menggetarkan cairan limfa yang ada didalam koklea.
Getaran cairan limfa tersebut akan merangsang ujung saraf pendengaran, kemudian
rangsang disampaikan ke otak dan akhirnya kita bisa mendengar.
c.
Keseimbangan
Pada
telinga bagian dalam terdapat organ berupa tiga saluran berbentuk setengah
lingkaran. Pada organ tersebut terdapat indra keseimbangan. Ketiga saluran
tersebut pangkalnya saling tegak lurus dan berisi cairan limfa (endolimfa).
Setiap pangkal saluran setengah lingkaran menggembung yang disebut ampula.
Didalam
ampula terdapat ujung saraf (reseptor) dan berisi cairan. Didalam cairan itu
terdapat butir-butir kapur (otolit) yang letaknya berubah mengikuti gravitasi.
Ke arah manapun kepala bergerak, cairan yang berada disalah satu saluran setengah
lingkaran bergerak mengikutinya, sehingga cairan didalam ampula ikut bergerak
pula.
Dengan
alat keseimbangan kita dapat mengetahui kedudukan tubuh kita. Misalnya, meskipun
mata kita dalam keadaan terpejam, kita dapat mengetahui posisi tubuh kita
miring, telentang, kepala dibawah, dan sebagainya. Selain dari indra
keseimbangan, informasi posisi tubuh juga datang dari mata dan otot tubuh. Mata
dan otot menyampaikan pesan ke otak, tentang posisi tubuh dan anggota badan
kita. Ketiga informasi itu oleh otak diolah menjadi satu, sehingga kita
mengetahui posisi kita.
3.
Kulit
Selain
berfungsi sebagai alat pelindung dan pengatur suhu tubuh, kulit juga berfungsi
sebagai indra peraba. Pada kulit terdapat beberapa saraf sensori yang disebut
reseptor raba. Reseptor raba berfungsi sebagai penerima rangsangan dari luar.
Terdapat beberapa reseptor pada kulit kita, yaitu reseptor tekanan kuat
(korpuskula Pacini), sentuhan dan rabaan (korpuskula Meissner dan lempeng
Merkel), dingin (saraf Krause), dan panas (korpuskula Ruffini). Oleh karena itu
kulit peka terhadap rangsangan rabaan, tekanan dan suhu.
Tidak
semua permukaan kulit pada tubuh memiliki kepekaan yang sama. Ada yang peka
terhadap rabaan dan ada yang peka terhadap suhu. Daerah yang peka terhadap
rabaan, misalnya di kuduk, sisi perut, dan bawah ketiak. Daerah yang peka
terhadap suhu adalah punggung tangan.
4.
Hidung
Indra
pembau bekerja karena adanya rangsangan berupa zat-zat kimia. Zat-zat kimia
yang ada di udara dideteksi oleh hidung, sebagai indra pembau. Pada selaput
lendir rongga hidung bagian atas manusia terdapat serabut saraf pembau yang berhubungan
dengan otak. Serabut saraf ini peka terhadap rangsangan kimia berupa gas yang
kita kenal sebagai bau.
Rangsangan
berupa bau, masuk hidung bersama-sama dengan udara yang kita hirup. Gas atau
uap yang kita hirup bersama udara pernapasan akan mengenai selaput lendir, sehingga
menimbulkan rangsangan. Rangsangan ini diteruskan oleh serabut saraf pembau ke
otak untuk diolah sehingga kita dapat mengetahui bau tersebut. Dengan adanya
indra pembau kita dapat menghindarkan diri dari zat yang berbau tidak sedap
atau zat berbahaya.
Mengapa
selera makan kita terganggu jika terserang influenza? Jika kita menderita influenza,
saraf pembau tidak peka terhadap rangsangan bau. Hal ini disebabkan ujung saraf
pembau tertutup oleh lendir atau ingus yang menghalangi kontak antara bau
dengan ujung-ujung serabut saraf.
5.
Lidah
Indra
perasa juga bekerja karena rangsangan zat kimia. Zat kimia yang terdapat dalam
makanan dikenali oleh lidah. Lidah manusia mengandung bermacam-macam reseptor,
yaitu resptor sakit, reseptor sentuhan, dan reseptor rasa. Reseptor rasa yang
disebut kuncup pengecap, peka terhadap rangsangan berbagai rasa. Kuncup
pengecap berfungsi untuk mengetahui rasa suatu zat kimia terlarut.
Kuncup
pengecap merupakan kumpulan ujung-ujung saraf pada lidah. Tiap-tiap kelompok
kuncup pengecap mempunyai kepekaan terhadap rangsangan rasa tertentu.
Sistem
indra memegang peran penting dalam aktivitas kehidupan manusia. Oleh karena
itu, jika sistem indra terganggu, keseluruhan kerja faal tubuh pun terganggu.
Beberapa kelainan dan gangguan yang dapat terjadi ialah sebagai berikut.
1.
Gangguan Akomodasi Mata
Bagi
orang bermata normal, benda jauh maupun dekat dapat dilihat dengan jelas,
karena daya akomodasi lensa mata normal. Mata normal disebut emetropi. Daya akomodasi mata yang tidak
normal menyebabkan gangguan penglihatan, karena bayangan benda tidak jatuh
tepat pada bintik kuning dalam retina.
Beberapa
gangguan penglihatan yang diakibatkan oleh daya akomodasi yang tidak normal
antara lain rabun jauh (miopi), rabun dekat (hipermiopi), dan mata tua
(presbiopi). Pada mata miopi, bayangan berada jatuh di depan retina karena bola
mata terlalu panjang (cembung). Pada mata hipermiopi, bayangan benda jatuh
dibelakang retina karena bola mata terlalu pendek (pipih). Kelainan mata miopi
dapat dibantu dengan lensa cekung. Sedangkan hipermiopi dapat dibantu dengan
lensa cembung.
Presbiopi
adalah gangguan peglihatan yang disebabkan otot penggerak lensa mata telah
mengendur, sehingga daya akomodasi berkurang. Presbiopi biasanya dialami oleh
orang yang telah berusia lanjut.
2.
Kekurangan Vitamin A
Kekurangan
vitamin A (avitaminosis A)
menyebabkan gangguan penglihatan secara bertahap. Mula-mula penderita akan
mengalami rabun senja. Penderita rabun senja tidak dapat mengamati benda dengan
jelas pada saat senja. Jika rabun senja tidak segera diobati, pada kornea mata
penderita muncul bintik putih. Selanjutnya, kornea mata akan mengering dan
akhirnya akan mengalami kebutaan karena bola mata pecah. Keadaan kornea mata
yang mengering ini disebut xeroftalmia.
Untuk mencegahnya perlu memakan makanan yang cukup mengandung vitamin A.
3.
Buta Warna
Buta
warna adalah gangguan penglihatan dimana seseorang tidak dapat membedakan
warna. Buta warna dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu buta warna total dan
buta warna sebagian. Buta warna total adalah jika seseorang tidak dapat
membedakan warna dan hanya melihat warna hitam dan putih. Buta warna sebagian
adalah jika seseorang tidak dapat membedakan warna tertentu. Ada beberapa tipe
buta warna sebagian, yaitu buta warna biru-hijau, biru-merah, dan merah-hijau.
Buta warna lebih banyak diderita laki-laki dan bersifat menurun. Wanita
bersifat pembawa akan lebih banyak mewariskannya kepada anak laki-laki. Untuk
mengetahui dengan pasti apakah seseorang penderita buta warna atau tidak, dapat
dilakukan dengan menjalani tes buta warna.
4.
Mata Juling (strabismus)
Kelainan
otot penggerak bola mata kanan dan kiri yang tidak serasi dapat menyebabkan
mata juling. Mata juling dapat diperbaiki dengan cara operasi.
5.
Gangguan Pada Telinga
Gangguan
pada telinga dapat terjadi baik pada telinga bagian luar, tengah, maupun dalam.
Gangguan pada telinga luar dapat disebabkan oleh kerusakan jaringan tulang
rawan pada telinga, misalnya karena terkena benda tajam. Gangguan pada telinga
tengah dapat disebabkan oleh masuknya benda tajam ke dalam telinga. Gangguan
telinga dalam dapat disebabkan karena mendengar suara yang sangat bising dalam
jangka waktu yang lama. Selain itu juga dapat disebabkan karena mengkonsumsi
obat-obatan.









