Selasa, 03 November 2015

SISTEM INDRA PADA MANUSIA

Judul Buku                                          : IPA BIOLOGI
Nama Penulis                                      : Istamar Syamsuri, dkk
Tahun Terbit                                        : 2007
Nama Penerbit                                    : Erlangga
Kota Terbit                                          : Jakarta
Jumlah Total Halaman Buku               : 160
Halaman Buku Resume                      : 45-61 

Hasil Resume                                      : 

SISTEM INDRA PADA MANUSIA

Tubuh kita dilengkapi dengan organ penerima rangsangan dari luar berupa sistem indra. Indra manusia berfungsi sebagai reseptor atau penerima rangsangan dari lingkungan sekitar. Indra manusia berupa indra penglihat (mata), indra pendengar (telinga), indra peraba (kulit), indra pembau (hidung), dan indra pengecap dan perasa (lidah).
Kelima alat indra ini akan berfungsi dengan baik jika :
a.       Saraf-saraf yang berfungsi membawa rangsangan bekerja dengan baik.
b.      Otak sebagai pengolah informasi bekerja dengan baik.
c.       Alat-alat indra tidak mempunyai kelainan bentuk dan fungsinya
Berikut ini akan kalian pelajari alat indra manusia satu demi satu.
1.      Mata
Mata kita berjumlah sepasang dan terletak di dalam rongga mata yang dilindungi oleh tulang tengkoroak. Agar dapat berfungsi sempurna, mata dibantu oleh sejumlah alat tambahan, yaitu alat pelindung di sekitar mata dan seperangkat otot penggerak bola mata.


Disebelah dalam kelopak mata terdapat kelenjar air mata yang menghasilkan air mata. Air mata berfungsi membunuh kuman yang akan masuk ke dalam mata serta menjaga agar permukaan bola mata selalu basah dan bebas dari debu.
Bagian – bagian mata terdiri dari otot, dinding bola mata, dan lensa mata.
a.       Otot Penggerak Bola Mata
Ada tiga pasang otot penggerak bola mata, yaitu otot penggerak atas, bawah, dan samping. Selain itu juga terdapat otot pemutar atas dan bawah. Otot-otot itu dapat menggerakkan bola mata kita ke segala arah. Apabila salah satu otot penggerak tidak berfungsi, mata kita menjadi juling.
b.      Selaput (dinding) Bola Mata
Dinding bola mata berfungsi sebagai pelindung bola mata. Dinding bola mata atau selaput bola mata terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan luar, lapisan tengah, dan lapisan dalam. Agar dapat memahami perhatikan gambar di bawah ini.


1)      Lapisan luar atau selaput luar
Lapisan luar bola mata bagian depan bersifat tembus cahaya (transparan). Lapisan ini disebut kornea atau selaput bening. Fungsi kornea adalah untuk meneruskan cahaya ke dalam bola mata. Selaput bening ini hanya ada di depan dan bentuknya bulat. Disebelah luar kornea terdapat selaput konjungtiva yang berlanjut ke kelopak mata. Lapisan luar bagian samping dan belakang bola mata berwarna putih. Lapisan ini disebut sklera.
2)      Lapisan tengah (lapisan koroid atau selaput jala)
Lapisan tengah terletak disebelah dalam lapisan luar. Selaput jala berubah menjadi selaput pelangi atau iris. Disebut selaput pelangi karena berwarna-warni dan bagian inilah yang menentukan warna mata. Selaput pelangi orang Indonesia umumnya berwarna hitam atau kecoklatan. Ditengah selaput pelangi terdapat lubang yang disebut orang-orangan mata atau pupil.
3)      Lapisan dalam (retina mata)
Lapisan paling dalam disebut retina mata, retina mata mengandung sel-sel yang sensitif terhadap cahaya dan mengandung saraf penglihatan. Pada retina mata terdapat dua macam sel reseptor, yaitu sel batang dan sel kerucut. Sel batang terletak dibagian tepi mata dan dapat bekerja dengan baik pada cahaya redup, jumlahnya 120 juta sel. Sel kerucut umumnya terletak dibagian tengah belakang mata, jumlahnya sekitar 7 juta sel. Sel-sel ini berfungsi untuk membedakan warna benda.


c.       Lensa Mata
Lensa mata terletak tepat dibelakang selaput pelangi dan dibelakang pupil mata. Lensa mata berbentuk bikonveks (cembung muka dan belakang), seperti lensa pada kamera. Cara kerja kamera meniru cara kerja mata. Mata kita dapat melihat benda yang letaknya jauh atau dekat. Untuk melihat benda yang letaknya jauh, lensa mata memipih. Sebaliknya, untuk melihat benda yang dekat lensa mata mencembung.

d.      Proses Melihat Benda
Cahaya yang mengenai suatu benda akan dipantulkan oleh benda tersebut. Pantulan cahaya masuk kedalam mata melalui lensa dan jatuh tepat pada bintik kuning. Sesampainya diretina, rangsangan cahaya diterima oleh saraf mata. Saraf mata mengirim rangsangan cahaya kepusat saraf penglihatan di otak untuk diolah, setelah diolah oleh otak, barulah kita mengetahui macam benda yang kita lihat.


2.      Telinga
Telinga adalah alat indra pendengar yang peka terhadap rangsangan atau bunyi. Jika sejak lahir indra pendengaran seseorang tidak berfungsi, maka orang tersebut selain tuli juga bisu. Hal ini disebabkan dia tidak mendengar suara orang bercakap-cakap, sehingga tidak dapat mengenal dan meniru ucapan.
Berikut bagian-bagian telinga beserta fungsinya.
a.       Bagian-Bagian Telinga
Telinga terdiri atas tiga bagian, yaitu telinga bagian luar, telinga bagian tengah, dan telinga bagian dalam. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar tentang bagian telinga tersebut.


b.      Proses Mendengar
Bunyi yang dapat kita dengar ialah bunyi yang mempunyai frekuensi gelombang 20 Hz sampai 20.000 Hz (1 Hz = 1 hertz = 1 getaran per detik). Getaran bunyi ditangkap oleh daun telinga, masuk melalui liang telinga dan menyebabkan gendang telinga atau selaput timpani bergetar. Di liang telinga terdapat rambut-rambut dan kelenjar yang mengeluarkan getah seperti jeli dan berwarna kecoklatan. Fungsi getah tersebut untuk melindungi liang telinga dari gangguan hewan kecil yang masuk ke liang telinga.
Getaran pada membran timpani dilanjutkan ketelinga tengah. Telinga bagian tengah terdiri dari tulang-tulamg pendengaran, yaitu martil, landasan, dan sanggurdi yang saling menyambung. Getaran dari membran timpani dirambatkan oleh ketiga tulang tersebut menuju ke telinga dalam.
Telinga dalam merupakan bagian penerima getaran. Bagian ini tersusun atas tingkap (jendela) jorong, tingkap bundar, tiga saluran setengah lingkaran, dan koklea (rumah siput). Dari telinga tengah, getaran menuju ke tingkap jorong, kemudian masuk kedalam koklea dan menggetarkan cairan limfa yang ada didalam koklea. Getaran cairan limfa tersebut akan merangsang ujung saraf pendengaran, kemudian rangsang disampaikan ke otak dan akhirnya kita bisa mendengar.
c.       Keseimbangan
Pada telinga bagian dalam terdapat organ berupa tiga saluran berbentuk setengah lingkaran. Pada organ tersebut terdapat indra keseimbangan. Ketiga saluran tersebut pangkalnya saling tegak lurus dan berisi cairan limfa (endolimfa). Setiap pangkal saluran setengah lingkaran menggembung yang disebut ampula.
Didalam ampula terdapat ujung saraf (reseptor) dan berisi cairan. Didalam cairan itu terdapat butir-butir kapur (otolit) yang letaknya berubah mengikuti gravitasi. Ke arah manapun kepala bergerak, cairan yang berada disalah satu saluran setengah lingkaran bergerak mengikutinya, sehingga cairan didalam ampula ikut bergerak pula.


Dengan alat keseimbangan kita dapat mengetahui kedudukan tubuh kita. Misalnya, meskipun mata kita dalam keadaan terpejam, kita dapat mengetahui posisi tubuh kita miring, telentang, kepala dibawah, dan sebagainya. Selain dari indra keseimbangan, informasi posisi tubuh juga datang dari mata dan otot tubuh. Mata dan otot menyampaikan pesan ke otak, tentang posisi tubuh dan anggota badan kita. Ketiga informasi itu oleh otak diolah menjadi satu, sehingga kita mengetahui posisi kita.
3.      Kulit
Selain berfungsi sebagai alat pelindung dan pengatur suhu tubuh, kulit juga berfungsi sebagai indra peraba. Pada kulit terdapat beberapa saraf sensori yang disebut reseptor raba. Reseptor raba berfungsi sebagai penerima rangsangan dari luar. Terdapat beberapa reseptor pada kulit kita, yaitu reseptor tekanan kuat (korpuskula Pacini), sentuhan dan rabaan (korpuskula Meissner dan lempeng Merkel), dingin (saraf Krause), dan panas (korpuskula Ruffini). Oleh karena itu kulit peka terhadap rangsangan rabaan, tekanan dan suhu.


Tidak semua permukaan kulit pada tubuh memiliki kepekaan yang sama. Ada yang peka terhadap rabaan dan ada yang peka terhadap suhu. Daerah yang peka terhadap rabaan, misalnya di kuduk, sisi perut, dan bawah ketiak. Daerah yang peka terhadap suhu adalah punggung tangan. 
4.      Hidung
Indra pembau bekerja karena adanya rangsangan berupa zat-zat kimia. Zat-zat kimia yang ada di udara dideteksi oleh hidung, sebagai indra pembau. Pada selaput lendir rongga hidung bagian atas manusia terdapat serabut saraf pembau yang berhubungan dengan otak. Serabut saraf ini peka terhadap rangsangan kimia berupa gas yang kita kenal sebagai bau.


Rangsangan berupa bau, masuk hidung bersama-sama dengan udara yang kita hirup. Gas atau uap yang kita hirup bersama udara pernapasan akan mengenai selaput lendir, sehingga menimbulkan rangsangan. Rangsangan ini diteruskan oleh serabut saraf pembau ke otak untuk diolah sehingga kita dapat mengetahui bau tersebut. Dengan adanya indra pembau kita dapat menghindarkan diri dari zat yang berbau tidak sedap atau zat berbahaya.
Mengapa selera makan kita terganggu jika terserang influenza? Jika kita menderita influenza, saraf pembau tidak peka terhadap rangsangan bau. Hal ini disebabkan ujung saraf pembau tertutup oleh lendir atau ingus yang menghalangi kontak antara bau dengan ujung-ujung serabut saraf.
5.      Lidah
Indra perasa juga bekerja karena rangsangan zat kimia. Zat kimia yang terdapat dalam makanan dikenali oleh lidah. Lidah manusia mengandung bermacam-macam reseptor, yaitu resptor sakit, reseptor sentuhan, dan reseptor rasa. Reseptor rasa yang disebut kuncup pengecap, peka terhadap rangsangan berbagai rasa. Kuncup pengecap berfungsi untuk mengetahui rasa suatu zat kimia terlarut.


Kuncup pengecap merupakan kumpulan ujung-ujung saraf pada lidah. Tiap-tiap kelompok kuncup pengecap mempunyai kepekaan terhadap rangsangan rasa tertentu.
*      Gangguan Dan Kelainan Pada Sistem Indra
Sistem indra memegang peran penting dalam aktivitas kehidupan manusia. Oleh karena itu, jika sistem indra terganggu, keseluruhan kerja faal tubuh pun terganggu. Beberapa kelainan dan gangguan yang dapat terjadi ialah sebagai berikut.
1.      Gangguan Akomodasi Mata
Bagi orang bermata normal, benda jauh maupun dekat dapat dilihat dengan jelas, karena daya akomodasi lensa mata normal. Mata normal disebut emetropi. Daya akomodasi mata yang tidak normal menyebabkan gangguan penglihatan, karena bayangan benda tidak jatuh tepat pada bintik kuning dalam retina.
Beberapa gangguan penglihatan yang diakibatkan oleh daya akomodasi yang tidak normal antara lain rabun jauh (miopi), rabun dekat (hipermiopi), dan mata tua (presbiopi). Pada mata miopi, bayangan berada jatuh di depan retina karena bola mata terlalu panjang (cembung). Pada mata hipermiopi, bayangan benda jatuh dibelakang retina karena bola mata terlalu pendek (pipih). Kelainan mata miopi dapat dibantu dengan lensa cekung. Sedangkan hipermiopi dapat dibantu dengan lensa cembung.
Presbiopi adalah gangguan peglihatan yang disebabkan otot penggerak lensa mata telah mengendur, sehingga daya akomodasi berkurang. Presbiopi biasanya dialami oleh orang yang telah berusia lanjut.
2.      Kekurangan Vitamin A
Kekurangan vitamin A (avitaminosis A) menyebabkan gangguan penglihatan secara bertahap. Mula-mula penderita akan mengalami rabun senja. Penderita rabun senja tidak dapat mengamati benda dengan jelas pada saat senja. Jika rabun senja tidak segera diobati, pada kornea mata penderita muncul bintik putih. Selanjutnya, kornea mata akan mengering dan akhirnya akan mengalami kebutaan karena bola mata pecah. Keadaan kornea mata yang mengering ini disebut xeroftalmia. Untuk mencegahnya perlu memakan makanan yang cukup mengandung vitamin A.
3.      Buta Warna
Buta warna adalah gangguan penglihatan dimana seseorang tidak dapat membedakan warna. Buta warna dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu buta warna total dan buta warna sebagian. Buta warna total adalah jika seseorang tidak dapat membedakan warna dan hanya melihat warna hitam dan putih. Buta warna sebagian adalah jika seseorang tidak dapat membedakan warna tertentu. Ada beberapa tipe buta warna sebagian, yaitu buta warna biru-hijau, biru-merah, dan merah-hijau. Buta warna lebih banyak diderita laki-laki dan bersifat menurun. Wanita bersifat pembawa akan lebih banyak mewariskannya kepada anak laki-laki. Untuk mengetahui dengan pasti apakah seseorang penderita buta warna atau tidak, dapat dilakukan dengan menjalani tes buta warna.
4.      Mata Juling (strabismus)
Kelainan otot penggerak bola mata kanan dan kiri yang tidak serasi dapat menyebabkan mata juling. Mata juling dapat diperbaiki dengan cara operasi.
5.      Gangguan Pada Telinga
Gangguan pada telinga dapat terjadi baik pada telinga bagian luar, tengah, maupun dalam. Gangguan pada telinga luar dapat disebabkan oleh kerusakan jaringan tulang rawan pada telinga, misalnya karena terkena benda tajam. Gangguan pada telinga tengah dapat disebabkan oleh masuknya benda tajam ke dalam telinga. Gangguan telinga dalam dapat disebabkan karena mendengar suara yang sangat bising dalam jangka waktu yang lama. Selain itu juga dapat disebabkan karena mengkonsumsi obat-obatan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar